BerandaDAERAHHarga TBS Sawit Kembali Menguat, Petani Kalteng Berharap Tren Positif Berlanjut

Harga TBS Sawit Kembali Menguat, Petani Kalteng Berharap Tren Positif Berlanjut

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

PALANGKA RAYA – KALTENG  || Journalistpolice.com –  Kabar menggembirakan mulai dirasakan petani kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit menunjukkan tren perbaikan yang memberi harapan baru bagi pekebun.

Terutama di tengah biaya operasional kebun yang terus meningkat dan fluktuasi harga komoditas perkebunan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Perkebunan secara berkala menetapkan harga pembelian TBS sebagai acuan transaksi bagi petani plasma maupun swadaya.

BACA JUGA  Sejarah Perubahan: 1979, Nama Kepala Kampung Menjadi Kepala Desa

Pada periode terbaru, harga TBS sawit produktif usia 10–20 tahun berada di kisaran Rp3.749,40 per kilogram, menjadi salah satu harga tertinggi di wilayah Kalimantan untuk kategori sawit mitra plasma.

Penguatan harga tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), harga inti sawit (kernel), hingga faktor indeks K yang menjadi komponen perhitungan resmi penetapan harga TBS.

Dalam periode I Mei 2026, harga CPO lokal tercatat sebesar Rp15.079,85 per kilogram dan kernel Rp15.049,74 per kilogram, yang ikut menopang harga TBS di tingkat petani.

BACA JUGA  Ahmada Dahlan Masuk Kandidat Calon Ketua KNPI Kalteng Terpopuler Jelang Musda ke-XV

Meski demikian, petani berharap tren kenaikan atau stabilitas harga tetap terjaga. Sebab, harga sawit yang baik sangat menentukan daya beli masyarakat desa, perputaran ekonomi lokal, hingga keberlangsungan biaya perawatan kebun seperti pupuk, panen, dan transportasi hasil produksi.

Di sisi lain, pemerintah mengingatkan bahwa harga resmi TBS merupakan acuan, sementara harga di lapangan dapat berbeda bergantung kualitas buah, kemitraan perusahaan, lokasi pengiriman, dan kesepakatan antara petani dengan pabrik kelapa sawit (PKS).

Penetapan harga periode berikutnya dijadwalkan kembali dibahas dalam rapat tim penetapan untuk memastikan harga tetap mencerminkan kondisi pasar terkini.

BACA JUGA  Kotim Darurat Konflik Agraria, Negara Tak Boleh Lamban

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini