KALT ENG || Journalistpolice.com – Gambar tersebut diatas bukan sekadar ilustrasi. Ia membawa sebuah pesan yang sangat kuat: putra-putri daerah tidak boleh terus-menerus merasa sebagai warga kelas dua di negeri sendiri.
Selama ini, pembangunan sering dipandang seolah-olah pusat adalah sumber utama pengetahuan, kemampuan, dan masa depan.
Daerah hanya dianggap sebagai tempat untuk mengambil sumber daya, sementara keputusan besar, kesempatan besar, dan posisi strategis seolah-olah selalu menjadi milik “orang pusat”.
Cara pandang seperti itu harus diubah.
Daerah memiliki sumber daya alam, budaya, manusia, dan potensi yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang apabila generasi mudanya hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita hanya perlu lebih banyak keberanian untuk percaya bahwa putra-putri daerah juga mampu.
Mampu menguasai teknologi.
Mampu memahami hukum.
Mampu mengelola pemerintahan.
Mampu mengembangkan ekonomi.
Mampu memimpin proyek besar.
Mampu menguasai ilmu politik, manajemen, bahkan teknologi masa depan.
Kemajuan suatu daerah tidak akan lahir hanya dari kritik terhadap pemerintah atau menyalahkan keadaan. Kemajuan akan lahir ketika generasi daerah mulai mempersiapkan diri, belajar, berkarya, dan berani mengambil peran.
Kita harus berhenti mewariskan mentalitas “orang daerah tidak mungkin bersaing dengan orang pusat.”
Sebab, pada akhirnya, kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh tempat kelahirannya. Ia ditentukan oleh ilmu, kerja keras, integritas, keberanian, dan kesempatan untuk berkembang.
Putra-putri daerah harus mulai menyadari bahwa mereka bukan hanya objek pembangunan. Mereka harus menjadi subjek pembangunan.
Bukan hanya menjadi pekerja di perusahaan besar. Bukan hanya menjadi pelaksana kebijakan. Bukan hanya menjadi penonton ketika keputusan penting dibuat.
Lebih dari itu, generasi daerah harus berani menjadi perencana, pengambil keputusan, pemimpin, pengusaha, ilmuwan, profesional, birokrat, politisi, dan pengatur masa depan.
Tidak ada istilah kalah dengan orang pusat.
Yang ada adalah daerah yang belum memberikan ruang yang cukup kepada putra-putrinya untuk berkembang.
Karena itu, pesan dalam gambar ini sangat relevan: mari bangkit dan berkarya.
Bukan untuk membenci siapa pun. Bukan untuk mempertentangkan daerah dengan pusat. Tetapi untuk membangun kesadaran bahwa setiap anak bangsa memiliki hak, kemampuan, dan kesempatan yang sama untuk maju.
Daerah tidak boleh hanya menjadi tempat orang lain mencari kekayaan.
Daerah harus menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu mengelola kekayaan, membangun peradaban, menguasai teknologi, dan menentukan masa depannya sendiri.
Masa depan daerah tidak boleh hanya ditentukan oleh mereka yang datang dari luar. Putra-putri daerah harus hadir sebagai pengatur keadaan.
Karena kita bukan warga kelas dua.
Kita adalah putra-putri daerah yang memiliki hak, kemampuan, dan kesempatan yang sama untuk membangun masa depan.
Penulis: Misnato (Petualang Jurnalis) Asal Kota Sampit







