BerandaINFO POLISIViral! Anak Desa Rp70 Ribu Bedah Buku di UI

Viral! Anak Desa Rp70 Ribu Bedah Buku di UI

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

JAKARTA  || Journalistpolice.com – Kisah perjuangan seorang anak desa yang merantau dengan modal hanya Rp70 ribu hingga mampu menempuh pendidikan tinggi dan melahirkan karya ilmiah.

Ia mendapat perhatian dalam Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku bertaraf internasional di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu lalu.

Buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” karya Muhammad Ja’far Hasibuan tersebut mengangkat perjalanan hidup, pendidikan, riset, inovasi, serta pengalaman sosial penulis dalam membangun karya yang diklaim berbasis pengalaman empiris dan kajian multidisiplin.

BACA JUGA  Konsolidasi Tugas Sepanjang Hari, Polresta Palangka Raya Gelar Apel Sore Kesatuan

Kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara itu diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring.

Acara tersebut mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.

Dibuka Perwakilan Kapolri

Muhammad Ja’far Hasibuan kepada awak media, Senin (10/8/2026), mengatakan peluncuran dan bedah bukunya menjadi momentum penting dalam perjalanan akademik dan pengembangan inovasi yang selama ini dilakukannya.

BACA JUGA  Oknum Guru P3K di Makassar Perkosa Siswinya Masih Dibawah Umur

Menurut Ja’far, kegiatan tersebut dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si.

Sementara sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.

“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Ja’far.

BACA JUGA  Cegah Karhutla, Polsek Bukit Batu Dampingi Patroli Bersama di Kelurahan Marang

Ja’far saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Sumatera Utara (USU).

Merantau Hanya Bermodal Rp70 Ribu

Buku tersebut mengisahkan perjalanan Ja’far sebagai anak yatim dari sebuah desa di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Dengan kondisi ekonomi terbatas, ia merantau dengan bekal hanya sekitar Rp70 ribu. Untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup, Ja’far menjalani berbagai aktivitas usaha, termasuk berjualan roti sambil menempuh pendidikan.

BACA JUGA  Secara Masif, Anggota Polsek Sabangau Ajak Warga Kalampangan Cegah Karhutla

Keterbatasan akses terhadap sumber daya dan informasi justru menjadi pengalaman yang kemudian mendorongnya untuk melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi.

Dari perjalanan tersebut, Ja’far memperkenalkan inovasi yang disebut Biofar SS. Namun, formula atau komposisi inovasi tersebut disebut masih dirahasiakan oleh penulis.

Ja’far menegaskan bahwa pendidikan yang diperolehnya tidak ingin berhenti sebagai pencapaian pribadi.

BACA JUGA  Polres Kotim Ikuti Zoom Meeting Launching Sistem Penerimaan Murid Baru SMA Kemala Taruna Bhayangkara

“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Didukung Lebih dari 200 Referensi

Salah satu keunggulan buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut adalah pendekatan yang memadukan pengalaman hidup penulis dengan teori dari berbagai disiplin ilmu.

Menurut Ja’far, buku tersebut menggunakan lebih dari 200 referensi ilmiah yang mencakup bidang kesehatan masyarakat, psikologi, pengembangan manusia, inovasi hingga manajemen.

BACA JUGA  Kabagren Polresta Palangka Raya Hadiri FGD Penyusunan Naskah Akademik Raperda

Kerangka teorinya antara lain membahas teori modal sosial, kapabilitas manusia, teori aksi terencana, keadilan kesehatan dan determinan sosial kesehatan.

Pada tingkat teori menengah, buku tersebut mengangkat psikologi perkembangan, teori sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).

Sementara dalam aspek manajemen, digunakan pula konsep Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).

Pendekatan tersebut digunakan untuk menganalisis bagaimana pengalaman hidup, keterbatasan ekonomi, pendidikan, ketekunan, dan proses pengembangan inovasi dapat saling berkaitan dalam membentuk kapasitas seseorang.

BACA JUGA  Korban Mabuk Bawa Mandau, Dihadang Pelaku dengan Tombak Berujung Usus Terburai

Profesor FKM UI Beri Apresiasi

Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., memberikan apresiasi terhadap karya tersebut.

Menurutnya, buku Ja’far memiliki nilai akademik karena berusaha menghubungkan pengalaman hidup autentik dengan teori-teori yang relevan dalam kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.

Dalam kesempatan tersebut, karya Ja’far juga disebut telah menjadi bahan diskusi di lingkungan akademik dan membuka peluang bagi pengembangan pendidikan ke jenjang doktoral.

BACA JUGA  Jelang Hut Bhayangkara ke-79, Kapolri Resmi Mutasi 702 Personel

Apresiasi juga disampaikan Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP.

Ia melihat perjalanan hidup Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.

Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, menghadapi keterbatasan ekonomi, hingga berjualan roti untuk membiayai pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.

Sementara Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menilai perjalanan tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga dan almamater.

BACA JUGA  Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Berhasil Gagalkan Penyeludupan 135 Kg Sabu

Kemenpora Berikan Apresiasi

Apresiasi juga datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilan resminya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.

Dalam kegiatan tersebut, Ja’far disebut mendapatkan penetapan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.

Selain itu, Perpustakaan Nasional RI disebut menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi.

BACA JUGA  Kapolda Bersama Gubernur Kalteng Hadiri Apel Peringatan Hari Santri 2025

Beasiswa Kapolri Jadi Amanah

Di balik pencapaian tersebut, Ja’far menyebut dukungan melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.

Ia mengaku sangat bersyukur mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara.

“Kepercayaan besar yang diberikan negara ini tidak pernah saya sia-siakan. Segala ilmu yang saya pelajari kini saya wujudkan dalam karya dan inovasi agar dapat dibagikan serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Ja’far.

Menurutnya, beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi juga amanah untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan sosial.

BACA JUGA  Secara Masif, Anggota Polsek Sabangau Ajak Warga Kalampangan Cegah Karhutla

Bukan Sekadar Kisah Perjuangan

Buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” pada akhirnya tidak hanya mengangkat kisah perjuangan seorang anak desa dalam menghadapi keterbatasan.

Buku tersebut mencoba menempatkan pengalaman pribadi sebagai bahan refleksi akademik mengenai pendidikan, ketangguhan, kesehatan masyarakat, inovasi, dan pemberdayaan manusia.

Kisah Ja’far menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Dengan pendidikan, kerja keras, ketekunan, dukungan lingkungan, serta kesempatan yang tepat, keterbatasan dapat menjadi titik awal untuk membangun kapasitas dan menghasilkan karya.

BACA JUGA  Konsolidasi Tugas Sepanjang Hari, Polresta Palangka Raya Gelar Apel Sore Kesatuan

Namun, setiap klaim mengenai manfaat kesehatan maupun inovasi Biofar SS tetap perlu ditempatkan dalam koridor pembuktian ilmiah, pengujian, regulasi, dan standar pelayanan kesehatan yang berlaku.

Dengan demikian, semangat perjuangan Ja’far dapat berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian ilmiah dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Bagi dunia pendidikan, kisah ini memberikan pesan sederhana: latar belakang ekonomi bukan satu-satunya penentu masa depan. Yang lebih penting adalah bagaimana kesempatan, ilmu pengetahuan, integritas, dan ketekunan digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat.

(Megy)

BACA JUGA  Polres Kotim Ikuti Zoom Meeting Launching Sistem Penerimaan Murid Baru SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini