Journalistpolice.com – Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa membongkar trik akal-akalan proyek akhir tahun yang sering dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) hampir diseluruh Indonesia.
Para pecinta cerita digital, saat hujan mengguyur dan genangan air jadi sahabat, tiba-tiba proyek di daerah hidup semua, mulai dari proyek jalan di aspal dalam becek. Jembatan dibangun ditengah badai.
Dan para kontraktor berlarian seperti ikut lomba ketangkasan lumpur. Tak ada musim yang lebih sibuk dari setiap akhir tahun. Seolah-olah seluruh Pemda kompak menandatangani perjanjian rahasia.

Proyek harus lahir di tengah hujan, tentu bukan karena hujan dianggap sebagai simbol kesuburan pembangunan, melainkankarena ada sesuatu yang lebih “BERBUNGA” di balik genangan air itu.
Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini telah membongkar rahasia lama yang selama ini Cuma dibisikan di warung kopi para kontraktor. Ternyata banyak Pemerintah Daerah yang lebih suka menyimpan uang rakyat di bank dari pada segera membangun.
Bukan main nilainya bukan recehan Rp234 Triliun uang daerah diketahui “TIDUR” di rekening bank per September 2025. Bahkan angka itu sempat melambung hingga Rp254,4 Triliun, seperti yang telah dilaporkan oleh berbagai media.
Tulisan ini menyebutkan bahwa dana itu bukan tersesat, hanya dipelihara, dibiarkan beristirahat dengan tenang. Karena setiap rupiah yang mengendap di bank akan menumbuhkan sesuatu yang harum”BUNGA”.
Semakin lama uang itu tidur, semakin mekar bunganya. Tak heran kalau proyek-proyek baru digerakan menjelang akhir tahun, karena saat itu “BUNGA” sudah cukup ranum untuk dipetik.
Lalu muncul pertanyaan nakal, kalau proyeknya mangkrak, uangnya kemana?. Nah disinilah kisahnya semakin menarik. Kalau proyek belum jalan, artinya anggaran belum dibelanjakan.
Selama uang itu masih nongkrong di rekening kas daerah (RKUD), maka bunga tetap berjalan. Coba hitung, kalau Rp500 miliar dibiarkan diam tiga bulan dengan bunga 4% per tahun, hasilnya bisa lebih dari Rp5 miliar. Uang diam pun bisa lebih produktif dari pekerja lembur.
Purbaya tentu jengkel, berkali-kali ia mengingatkan kelola dana dengan bijak, jangan biarkan uang tidur, tapi siapa yang mau membangunkan uang yang sedang beranak-pinak ?
Lebih aman membiarkannya beristirahat dulu, lalu belanja di penghujung tahun biar serapan anggaran terlihat heroik.
Begitulah misterinya terungkap, proyek dikebut di akhir tahun bukan karena semangat pembangunan yang membara, melainkan karena “BUNGA” bank sudah waktunya panen.
Uang rakyat seharusnya bekerja untuk rakyat, bukan tidur di bank demi menumbuhkan “BUNGA” yang hanya harum diruang kekuasaan.
Pembangunan sejatinya tidak lahir dari angka serapan di akhir tahun, tapi dari niat tulus menggerakan kesejahteraan sejak awal anggaran turun. Ketika pejabat lebih sibuk menghitung “BUNGA” dari menambal jalan berlubang, disitulah nurani publik mulai retak, demiklian (Misnato)
Sumber: Dikutif dari medsos









