SAMPIT – KALT ENG || Journalistpolice.com – Jadwal pemilihan Damang Kepala Adat Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MB Ketapang) patut mendapat perhatian dan evaluasi.
Sejumlah kandidat mengusulkan agar panitia tidak hanya berfokus pada tahapan administratif dan pemungutan suara, tetapi juga menyediakan forum terbuka untuk penyampaian visi, misi, program kerja, serta debat antarkandidat.
Usulan tersebut layak dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas demokrasi adat.
Sebab, memilih seorang Damang bukan sekadar menentukan siapa yang akan menduduki jabatan, melainkan menentukan sosok yang dipercaya untuk menjaga, menegakkan, dan mengembangkan nilai-nilai adat Dayak di tengah masyarakat.
Pemilih Berhak Mengenal Calon Secara Utuh
Pemilih seharusnya tidak hanya mengenal nama, wajah, atau latar belakang seorang kandidat. Mereka perlu mengetahui apa yang akan dilakukan calon Damang ketika terpilih, bagaimana program kerjanya, serta bagaimana ia akan menghadapi persoalan adat dan sosial yang berkembang di masyarakat.
Karena itu, forum penyampaian visi, misi, dan program kerja menjadi penting. Setiap kandidat perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk menjelaskan gagasannya secara terperinci, bukan sekadar menyampaikan janji umum tanpa penjabaran yang jelas.
Program kerja juga harus realistis dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, bagaimana kandidat akan meningkatkan penyelesaian sengketa adat, memperkuat pembinaan generasi muda Dayak, menjaga kelestarian hukum adat, serta membangun komunikasi dengan pemerintah dan lembaga adat lainnya.
Tanpa ruang untuk menjelaskan hal-hal tersebut, pemilih berisiko mengambil keputusan berdasarkan informasi yang terbatas.
Debat Kandidat Bukan untuk Saling Menjatuhkan
Selain pemaparan visi dan misi, panitia sebaiknya mempertimbangkan penyelenggaraan debat kandidat yang dipimpin moderator netral dan difasilitasi secara resmi.
Debat bukan ajang mempermalukan lawan atau mengungkit persoalan pribadi yang tidak relevan. Sebaliknya, debat merupakan kesempatan untuk menguji pemahaman calon terhadap hukum adat, kemampuan menyelesaikan konflik, integritas kepemimpinan, dan rencana kerja yang ditawarkan.
Panitia dapat menyiapkan pertanyaan yang sama untuk seluruh kandidat, memberikan waktu menjawab yang setara, serta menyediakan sesi tanggapan dan pertanyaan dari pemilih.
Dengan mekanisme tersebut, masyarakat dapat membandingkan gagasan dan melihat bagaimana setiap kandidat menyampaikan argumen serta menanggapi persoalan secara dewasa.
Panitia Perlu Mendengar Aspirasi Kandidat
Sejumlah kandidat mengusulkan adanya forum visi-misi dan debat sebelum hari pemilihan. Usulan ini patut ditanggapi secara terbuka oleh panitia, dengan mempertimbangkan jadwal, tata tertib, dan ketentuan pemilihan yang berlaku.
Panitia memang memiliki tanggung jawab mengatur tahapan pemilihan. Namun, pengaturan jadwal sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kelancaran administratif, tetapi juga memberikan ruang yang memadai bagi pemilih untuk mengenal kapasitas dan gagasan para calon.
Apabila tahapan masih memungkinkan untuk disesuaikan, panitia dapat bermusyawarah dengan para kandidat dan unsur terkait untuk menyepakati format forum yang adil. Jika perubahan tidak memungkinkan, panitia perlu menjelaskan alasannya secara terbuka dan mempertimbangkan mekanisme lain yang tetap memberikan kesempatan setara kepada seluruh kandidat.
Keterbukaan semacam ini dapat membantu menjaga kepercayaan peserta dan masyarakat terhadap proses pemilihan.
Keteladanan Harus Diuji Melalui Gagasan dan Sikap
Damang Kepala Adat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Dayak. Oleh sebab itu, penilaian terhadap calon semestinya tidak berhenti pada popularitas atau dukungan kelompok tertentu.
Pemahaman hukum adat, integritas, kemampuan bermusyawarah, ketegasan dalam menyelesaikan perselisihan, serta komitmen terhadap kepentingan masyarakat merupakan hal-hal yang layak diperhatikan.
Forum kandidat dapat menjadi salah satu sarana untuk menilai aspek tersebut. Meski demikian, debat tidak dapat menggantikan proses verifikasi persyaratan resmi dan pemeriksaan atas keberatan yang diajukan sesuai mekanisme yang berlaku.
Jangan Memilih Kucing dalam Karung
Pemilihan Damang seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa adat Dayak mampu menyelenggarakan proses pemilihan yang bermartabat, terbuka, dan bertanggung jawab.
Ungkapan “memilih kucing dalam karung” menjadi pengingat bahwa pemilih perlu memperoleh informasi yang cukup sebelum menentukan pilihan. Hak memilih akan lebih bermakna apabila disertai kesempatan untuk mengenal program, menguji pemikiran, dan menilai komitmen setiap kandidat.
Karena itu, panitia diharapkan mempertimbangkan aspirasi sejumlah kandidat mengenai forum visi-misi, program kerja, dan debat terbuka yang dipandu secara netral.
Pada akhirnya, kualitas pemilihan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memperoleh suara terbanyak, tetapi juga oleh seberapa baik proses tersebut.
Pewarta: Misnato (Petualang Jurnalis) asal Kota Sampit












