BerandaFIKSILampu Teras yang Tak Pernah Padam

Lampu Teras yang Tak Pernah Padam

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Journalistpolice.com – Setiap malam, lampu teras rumah itu selalu menyala. Bukan terang yang mencolok, hanya lampu kecil berwarna kuning redup, cukup untuk menerangi kursi kayu tua di sudut.

Di situlah Arga sering duduk setelah semua orang tertidur. Tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin, matanya kosong menatap jalan yang sepi.

Sebagai tetangganya, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Kami hanya saling mengangguk jika berpapasan pagi hari. Dia lelaki yang tenang, tidak banyak bicara. Orang-orang bilang dia kuat. Katanya, dia cepat bangkit. Katanya, dia baik-baik saja.

Orang-orang selalu punya “katanya”.

Tapi mereka tidak pernah melihat lampu teras itu. Suatu sore, aku melihat Arga pulang bersama anak perempuannya yang masih kecil. Gadis itu tertawa sambil memeluk leher ayahnya. Arga tersenyum, senyum yang tulus, senyum seorang ayah yang berusaha menjadi dunia bagi anaknya.

Namun ketika gadis itu masuk ke rumah, senyum itu perlahan menghilang. Dia berdiri diam di depan pintu, seolah ragu untuk masuk. Seolah ada bagian dari rumah itu yang tidak lagi sama.

Aku tahu perasaan itu. Bukan karena aku pernah menjadi dia. Tapi karena aku pernah melihat seseorang kehilangan.

Malam itu, hujan turun pelan. Lampu terasnya tetap menyala. Aku melihat Arga duduk di sana, lebih lama dari biasanya. Tidak ada kopi di tangannya, hanya kedua telapak tangan yang saling menggenggam, seolah menahan sesuatu agar tidak jatuh.

Aku ingin bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”

Tapi aku tahu, itu pertanyaan yang tidak pernah punya jawaban jujur. Karena lelaki seperti Arga tidak terbiasa menjawab dengan kata-kata.

Dia menjawab dengan tetap bekerja setiap hari.
Dia menjawab dengan tetap tertawa di depan anaknya.
Dia menjawab dengan tetap berdiri, bahkan ketika hatinya mungkin runtuh.

Orang-orang mengira dia bebas sekarang. Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang mengikat.

Padahal sebenarnya, dia masih terikat pada kenangan.

Pada suara yang dulu memanggil namanya dari dalam rumah.
Pada seseorang yang dulu menjadi alasan dia pulang lebih cepat.
Pada kehidupan yang dulu terasa utuh.

Suatu malam, listrik di rumahku padam. Satu-satunya cahaya yang tersisa adalah lampu teras rumah Arga.

Aku melihat dia berdiri di ambang pintu, memperhatikan anaknya yang tertidur di sofa. Dia mendekat, memperbaiki selimut kecil itu dengan hati-hati. Gerakannya pelan, seolah takut membangunkan dunia kecil yang tersisa miliknya.

Di wajahnya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun. Bukan kelemahan. Bukan kehancuran. Tapi kelelahan yang sangat dalam.

Dia duduk di lantai, bersandar di samping sofa itu. Tidak menangis. Tidak bergerak. Hanya diam, menemani tidur anaknya.

Saat itulah aku mengerti. Menjadi duda bukan tentang kehilangan pasangan saja. Itu tentang kehilangan seseorang yang dulu berbagi beban hidup. Tentang menjadi satu-satunya tempat pulang, padahal dia sendiri tidak lagi tahu ke mana harus pulang.

Hari-hari berlalu. Lampu teras itu masih selalu menyala. Tapi sekarang, aku tidak lagi melihatnya sebagai tanda kesepian.

Aku melihatnya sebagai tanda keberanian. Keberanian untuk tetap hidup.
Keberanian untuk tetap mencintai, meski pernah hancur. Keberanian untuk tetap menjadi ayah, meski hatinya belum sepenuhnya sembuh.

Dan aku, sebagai seorang wanita, tidak pernah melihat Arga sebagai lelaki yang gagal. Aku melihatnya sebagai lelaki yang pernah jatuh, dan tetap memilih berdiri.Bukan karena dia tidak terluka.

Tapi karena seseorang masih memanggilnya, “Papa.”

BACA JUGA  Pandangan Seorang Wanita Terhadap Seorang DUDA

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini