BerandaARTIKELCatatan Misnato: Ketika Ady Candra Memilih Mundur dari Birokrasi

Catatan Misnato: Ketika Ady Candra Memilih Mundur dari Birokrasi

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Journalistpolice.com –  Inilah catatan Misnato selaku petualang Jurnalis ” Ketika Ady Candra Memilih Mundur dari Birokrasi” Ada keputusan yang secara hukum dan administratif merupakan hak seseorang, tetapi secara moral dan sosial tetap membuat kita bertanya-tanya.

Begitu pula ketika mendengar kabar Ady Candra, S.H., M.H., memilih mengakhiri perjalanan sebagai aparatur sipil negara.

Saya pribadi menyayangkan keputusan tersebut.

Bukan karena Ady tidak berhak menentukan jalan hidupnya. Bukan pula karena seorang ASN harus selamanya berada di dalam birokrasi.

BACA JUGA  Tiga Regulasi Pidana Baru Berlaku, Indonesia Tinggalkan Warisan Hukum Kolonial

Justru karena saya melihat masih ada potensi dan pengalaman yang sebenarnya bisa diberikan Ady untuk daerah ini.

Ia pernah berada di sejumlah posisi pemerintahan, termasuk sebagai Camat Telawang, Camat Baamang, Camat Cempaga, hingga menjalankan tugas di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kotawaringin Timur.

Artinya, ia bukan orang yang baru mengenal pemerintahan.

Ia sudah merasakan bagaimana menghadapi masyarakat di tingkat kecamatan, berhadapan dengan berbagai persoalan pelayanan publik, sekaligus memahami bagaimana birokrasi bekerja dari dalam.

BACA JUGA  Opini: Stunting di Kabupaten Sangihe — Masalah Gizi yang Menyerap Uang Keluarga

Yang Membuat Saya Bertanya

Yang membuat saya bertanya bukan semata-mata soal keputusan pensiun dini.

Yang membuat saya bertanya adalah momentumnya.

Ketika seseorang telah membangun karier cukup panjang, memiliki pengalaman dan masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan karier, lalu memilih berhenti, tentu ada proses pemikiran yang tidak sederhana di baliknya.

Apakah karena pertimbangan keluarga?

Apakah karena ingin membangun usaha?

Apakah karena ingin memasuki dunia profesi baru?

Atau ada pengalaman lain yang membuatnya merasa sudah waktunya mengambil jalan berbeda?

Saya tidak ingin berspekulasi.

Jawaban sesungguhnya tetap berada pada Ady Candra.

BACA JUGA  "Peran Wartawan" Menjaga Fakta di Tengah Banjir Informasi

Tentang Komitmen

Unggahan Ady di media sosial juga menarik perhatian saya.

Ia menulis tentang perjalanan, komitmen dan kepatuhan. Kemudian muncul rangkaian kata tentang kepentingan, kehendak, pion depan, benteng, menyerang, bertahan, alat tempur, jirah besi dan pemukul.

Bagi saya, tulisan itu terasa seperti sebuah refleksi seseorang yang telah melewati perjalanan panjang.

Tetapi saya tidak ingin menjadi orang yang menafsirkan pikiran orang lain.

Apakah tulisan itu berkaitan dengan pengalaman selama menjadi birokrat atau sekadar renungan pribadi, hanya Ady yang dapat menjelaskan.

Justru karena itulah saya berharap Ady bersedia menjelaskan kepada publik dengan terbuka.

Bukan untuk menghakimi.

Bukan untuk mencari kesalahan.

Tetapi agar masyarakat memahami bahwa keputusan besar seperti meninggalkan ASN tentu mempunyai cerita di belakangnya.

BACA JUGA  Komoditi Rotan Diselamatkan, Martabat Petani Dipertaruhkan

Jangan Sampai Pengalaman Itu Hilang

Ada satu hal yang menurut saya penting.

Ketika seseorang meninggalkan birokrasi, sebenarnya yang ikut pergi bukan hanya dirinya sebagai pegawai.

Pengalaman, pengetahuan dan jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun juga ikut berpindah ke ruang lain.

Karena itu, saya berharap pengalaman Ady Candra tidak berhenti bersama keputusan pensiun dini tersebut.

Kalau benar ia memilih dunia hukum, justru di situlah pengalaman birokrasi tersebut dapat menjadi modal penting.

Seorang yang pernah berada di dalam pemerintahan tentu memiliki perspektif berbeda ketika kemudian berbicara mengenai hukum, pelayanan publik dan kepentingan masyarakat.

Itu bisa menjadi kekuatan.

BACA JUGA  Korupsi Dana Desa: Bom Waktu Demokrasi Lokal

Mundur Bukan Berarti Kalah

Saya juga tidak ingin keputusan Ady dipandang sebagai sebuah kekalahan.

Mundur dari jabatan tidak selalu berarti kalah.

Kadang seseorang mundur karena ingin memilih jalan yang menurutnya lebih sesuai dengan prinsip hidupnya.

Kadang seseorang meninggalkan sesuatu bukan karena tidak mampu mempertahankannya, tetapi karena ingin membangun sesuatu yang baru.

Karena itu saya menghormati keputusan Ady.

Saya hanya menyayangkan karena menurut pandangan saya, Kotawaringin Timur masih membutuhkan orang-orang berpengalaman seperti dirinya di dalam pemerintahan.

Namun hidup bukan hanya soal jabatan.

Ada keluarga, keyakinan, cita-cita dan pilihan pribadi yang tidak selalu bisa kita ukur dari luar.

BACA JUGA  Opini: Mahalnya Mencari Keadilan di Negeri Ini

Babak Baru

Jika benar setelah meninggalkan ASN Ady Candra akan menekuni profesi hukum dan memasuki dunia advokat, dan menekuni dunia usaha lain seperti pedagang dan peternak ayam dll, saya berharap ia membawa satu hal yang paling berharga dari perjalanan sebelumnya: pengalaman memahami masyarakat.

Sebab dunia hukum bukan hanya tentang pasal dan aturan.

Di balik setiap persoalan hukum ada manusia, ada keluarga, ada kepentingan dan ada harapan untuk mendapatkan keadilan.

Pengalaman sebagai birokrat bisa menjadi bekal untuk memahami semua itu.

Maka, bagi saya, perjalanan Ady Candra belum selesai.

Ia hanya berpindah jalan.

Dari birokrasi menuju dunia profesional.

Dari ruang pemerintahan menuju ruang hukum.

Dan dari jabatan menuju bentuk pengabdian yang berbeda. dan mungkin memilih oposisi dibalik ini semua.

BACA JUGA  Peta SIGAP Bongkar Dugaan Lahan PT MAP di Luar Koridor HGU

Saya menyayangkan Ady Candra meninggalkan ASN. Tetapi saya juga menghormati keberaniannya mengambil keputusan.

Semoga pilihan tersebut benar-benar menjadi jalan terbaik.

Sebab pada akhirnya, jabatan boleh berakhir, tetapi nilai pengabdian seharusnya tidak pernah ikut pensiun.

Penulis : Misnato (Petualang Jurnalis) Asal Kota Sampit

BACA JUGA  Renungan Akhir Tahun: Harapan Rakyat di Tengah Kebijakan dan Nurani Kekuasaan

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini