SAMPIT – KALT ENG || Journalistpolice.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah, khususnya Kotawaringin Timur (Kotim), tidak hanya membutuhkan personel, kendaraan pemadam, dan peralatan. Ada satu persoalan yang tidak kalah penting, yakni ketersediaan sumber air yang dekat dengan lokasi kebakaran.
Selama ini, salah satu sumber air yang digunakan pemadam di Kotim adalah Kali Mentaya. Namun, ketika lokasi Karhutla berada cukup jauh dari sungai, kendaraan pemadam harus menempuh perjalanan untuk mengambil air dan kemudian kembali ke lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut tentu membutuhkan waktu. Sementara itu, api tidak menunggu kendaraan pemadam kembali.
Karena itu, menurut saya, sudah saatnya Kotim mulai memikirkan konsep “Gudang Air Karhutla”, yakni membangun dan menyiapkan sumber-sumber air darurat di sejumlah lokasi yang rawan terjadi kebakaran.
Sumur Darurat di Sungai yang Sudah Kering
Salah satu gagasan yang cukup sederhana adalah memanfaatkan sungai kecil atau parit yang memotong jalan raya tetapi saat musim kemarau sudah mengering.
Kondisi sungai yang terlihat kering bukan berarti tidak ada kemungkinan terdapat air di bawah permukaan tanah.
Pada lokasi yang secara teknis, lingkungan dan keselamatan jalan memungkinkan, excavator dapat digunakan untuk menggali bagian dasar sungai atau parit lebih dalam, dengan tujuan mencari lapisan tanah yang masih menyimpan air.
Jika ditemukan sumber air yang layak, lokasi tersebut dapat dijadikan sumur air darurat Karhutla.
Selanjutnya, titik tersebut dapat dilengkapi pompa Alkon atau pompa portable, sehingga ketika terjadi kebakaran di sekitar wilayah tersebut, air dapat segera diambil untuk mengisi kendaraan pemadam atau mendukung pemadaman.
Keuntungan lainnya adalah lokasi sungai atau parit yang memotong jalan raya biasanya mempunyai akses yang relatif mudah dijangkau kendaraan, sehingga proses pengambilan air dapat dilakukan lebih cepat.
Namun, pelaksanaan penggalian tentu harus melalui kajian teknis agar tidak mengganggu konstruksi jalan, jembatan, drainase, lingkungan maupun keselamatan masyarakat.
Embung Terpal Dekat Lokasi Karhutla
Gagasan kedua adalah membuat embung atau penampungan air sementara menggunakan terpal/geomebran di sekitar kawasan yang dikenal rawan Karhutla.
Penampungan tersebut dapat dibuat dengan ukuran yang disesuaikan kondisi lapangan. Setelah tersedia, air di dalamnya harus dijaga agar tetap penuh atau berada pada volume siaga.
Pengisian dapat dilakukan secara berkala menggunakan mobil tangki air, terutama ketika memasuki periode kemarau panjang dan risiko Karhutla meningkat.
Dengan demikian, ketika terjadi kebakaran, masyarakat maupun petugas tidak perlu mencari sumber air yang jaraknya terlalu jauh.
Jangan Menunggu Api Membesar
Selama ini pola yang sering terjadi adalah api muncul terlebih dahulu, kemudian petugas mencari sumber air.
Menurut saya, pola tersebut perlu mulai diubah menjadi:
“Sediakan air sebelum api datang.”
Artinya, sumber air harus dipersiapkan sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan Karhutla, bukan baru dicari ketika kebakaran sudah terjadi.
Setiap kawasan rawan Karhutla dapat dipetakan dan diberi Titik Air Siaga. Titik tersebut dilengkapi informasi mengenai lokasi, kapasitas air, akses kendaraan, kondisi sumber air dan peralatan pompa yang tersedia.
Kotim Tidak Hanya Membutuhkan Armada, Tetapi Juga Jaringan Air
Penanganan Karhutla tentu tidak cukup hanya dengan menambah armada pemadam.
Sebanyak apa pun kendaraan pemadam yang tersedia, jika sumber air berada jauh dari lokasi kebakaran, waktu akan tetap terbuang untuk perjalanan mengambil air.
Karena itu, yang diperlukan adalah jaringan sumber air yang tersebar di wilayah rawan Karhutla.
Kali Mentaya tetap dapat menjadi salah satu sumber air utama. Namun, harus tersedia pula sumber-sumber air alternatif yang lebih dekat dengan titik rawan kebakaran.
Pemerintah daerah dapat menggandeng BPBD, Damkar, pemerintah kecamatan dan desa, TNI-Polri, perusahaan perkebunan, MPA serta masyarakat untuk membangun dan menjaga titik-titik sumber air tersebut.
Perusahaan yang memiliki peralatan berat juga dapat dilibatkan untuk membantu pekerjaan pembuatan sumur darurat maupun embung di lokasi yang telah ditentukan secara bersama.
Bisa Dimulai dari Beberapa Titik Percontohan
Program ini tidak harus langsung dilakukan dalam jumlah besar.
Pemerintah dapat terlebih dahulu menentukan beberapa lokasi yang selama ini sering mengalami Karhutla dan jauh dari sumber air permanen.
Di lokasi tersebut dibuat pilot project Titik Air Siaga Karhutla, berupa sumur darurat pada sungai/parit kering dan embung atau tandon air sementara.
Jika terbukti membantu mempercepat proses pemadaman, konsep tersebut dapat diperluas ke kecamatan dan desa lainnya.
Bahkan ke depan, Kotim dapat memiliki peta digital Titik Air Siaga Karhutla, sehingga petugas pemadam dapat mengetahui sumber air terdekat ketika menerima laporan kebakaran.
Air Dekat, Pemadaman Lebih Cepat
Karhutla adalah persoalan bersama. Karena itu, pencegahannya juga membutuhkan kerja bersama.
Gagasan “Gudang Air Karhutla” bukan berarti menggantikan fungsi armada pemadam atau sumber air alami, tetapi melengkapinya dengan menyediakan sumber air yang lebih dekat dan mudah diakses.
Sebab, dalam menghadapi Karhutla, waktu sangat berharga.
Ketika sumber air berada dekat, waktu perjalanan dapat dikurangi. Ketika air sudah tersedia, petugas dapat lebih cepat melakukan pemadaman.
Dan yang paling penting, api diharapkan dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
KOTIM SIAGA AIR KARHUTLA
“Jangan Menunggu Kebakaran Baru Mencari Air. Sediakan Air Sebelum Api Datang.”
Penulis Opini: Misnato Petualang Jurnalis Asal Kota Sampit










