BerandaARTIKELNegeri Membara, Rakyat Terengah, Penguasa Harus Bercermin

Negeri Membara, Rakyat Terengah, Penguasa Harus Bercermin

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Journalistpolice.com – Ada yang salah dengan negeri ini. Langitnya semakin sering kehilangan warna biru. Udara bersih berubah menjadi barang mahal. Panas menyengat dari pagi hingga malam, sementara kabut asap menggantung seperti tirai kelam di atas kepala rakyat.

Di bawahnya, kehidupan terus berjalan dengan tertatih. Pedagang kecil tetap membuka lapak. Buruh tetap bekerja. Petani tetap pergi ke ladang. Pengemudi tetap mencari penumpang. Orang tua tetap memikirkan biaya sekolah anak-anaknya.

Tetapi kini mereka harus berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat: udara yang tercemar dan lingkungan yang semakin kehilangan daya hidupnya. Hutan dan lahan terbakar.

BACA JUGA  Objek Perkara Dipertanyakan, HGU No 30 Dipakai PT MAP Melapor

Api menjalar. Bara merayap. Asap masuk ke rumah-rumah penduduk. Dan pertanyaan yang seharusnya menggema dari ruang-ruang kekuasaan adalah:

Sampai kapan negeri ini dibiarkan seperti ini?

Jangan hanya menghitung luas lahan yang terbakar.

Hitung pula berapa banyak kehidupan yang ikut terbakar.

Berapa banyak satwa yang kehilangan habitat?

Berapa banyak anak yang harus menghirup udara kotor?

Berapa banyak warga yang aktivitasnya terganggu?

Berapa banyak petani, pedagang kecil dan pekerja harian yang kehilangan penghasilan?

Dan berapa banyak kerugian ekologis yang tidak akan pernah mampu dibayar dengan uang?

Ketika Hutan Dibakar, Siapa yang Menang?

Kita sering mendengar bahwa api harus dipadamkan.

Benar.

Tetapi memadamkan api tanpa membongkar akar persoalannya hanyalah memadamkan gejala.

Tahun berganti, musim kemarau datang, api kembali muncul.

Lalu masyarakat kembali menghirup asap.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah kita memang tidak mampu belajar dari kebakaran yang berulang, atau ada kepentingan yang terlalu besar untuk disentuh?

Di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini, jangan sampai hutan hanya dipandang sebagai angka di atas peta.

Jangan sampai lahan hanya dilihat sebagai komoditas.

Sebab di atas tanah itu ada kehidupan.

Ada sungai.

Ada pepohonan.

Ada satwa.

Ada masyarakat adat.

Ada petani.

Ada generasi yang akan lahir puluhan tahun setelah kita tidak lagi berada di dunia ini.

Jika semuanya dikorbankan demi kepentingan sesaat, maka kita sebenarnya sedang mencuri masa depan anak cucu sendiri.

Korupsi, Kekuasaan dan Hukum yang Harus Berani

Yang lebih menyakitkan, di tengah rakyat yang semakin sulit bernapas dan semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup, negeri ini masih terus disuguhi berita tentang dugaan korupsi, penyalahgunaan kewenangan dan permainan kepentingan.

Seolah ada dua dunia yang berbeda.

Di satu sisi, rakyat diminta berhemat.

Di sisi lain, uang negara dan sumber daya alam diperebutkan oleh mereka yang memiliki akses terhadap kekuasaan.

Di satu sisi, rakyat kecil bisa berhadapan dengan hukum hanya karena persoalan kecil.

Di sisi lain, masyarakat sering bertanya-tanya mengapa persoalan besar terasa begitu lama menemukan ujungnya.

Inilah yang membuat kepercayaan publik terbakar perlahan, sama seperti hutan yang dilalap api.

Hukum tidak boleh menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Keadilan tidak boleh mengenal ukuran dompet.

Kebenaran tidak boleh ditentukan oleh jabatan.

Dan negara tidak boleh hanya hadir ketika rakyat kecil melakukan kesalahan, tetapi absen ketika kepentingan besar merusak lingkungan dan merampas hak kehidupan masyarakat.

Satwa Tidak Bisa Berteriak ke Istana

Ada satu kelompok korban yang hampir tidak pernah masuk dalam rapat-rapat kekuasaan.

Mereka tidak mempunyai pengacara.

Tidak mempunyai wakil politik.

Tidak bisa membuat demonstrasi.

Tidak bisa menulis surat pengaduan.

Mereka adalah satwa.

Ketika habitatnya terbakar, mereka berlari.

Ketika hutan menghilang, mereka kehilangan rumah.

Ketika makanan tidak tersedia, mereka mati.

Mereka tidak tahu siapa pemilik konsesi.

Mereka tidak memahami apa itu izin.

Mereka tidak mengenal kepentingan politik.

Mereka hanya tahu bahwa rumah mereka terbakar.

Dan ketika mereka keluar dari habitatnya lalu masuk ke wilayah manusia, sering kali mereka justru dianggap sebagai gangguan.

Padahal manusialah yang terlebih dahulu menghilangkan rumah mereka.

Jangan Tunggu Negeri ini Kehabisan Udara

Kepada para pejabat, pemimpin daerah, aparat penegak hukum dan seluruh pemegang kewenangan:

jangan hanya datang ketika api sudah membesar.

Jangan hanya berfoto di depan kepulan asap.

Jangan hanya membuat pernyataan bahwa karhutla akan ditindak tegas.

Rakyat membutuhkan tindakan nyata.

Cari siapa yang bertanggung jawab.

Periksa izin.

Periksa tata kelola lahan.

Periksa perusahaan dan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

Tindak pelanggaran tanpa pandang bulu.

Dan jangan biarkan hukum berhenti pada mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Sebab kalau keadilan hanya berani menyentuh yang lemah, maka yang sedang terbakar bukan hanya hutan.

Yang terbakar adalah kepercayaan rakyat kepada negara.

Ini Bukan Sekedar Kabut Asap

Kabut asap adalah pesan.

Panas adalah pesan.

Hutan yang terbakar adalah pesan.

Satwa yang mati adalah pesan.

Rakyat yang semakin sulit hidup adalah pesan.

Semuanya seperti mengetuk pintu hati para penguasa.

Pertanyaannya, masihkah ada yang mau mendengar?

Ataukah suara rakyat sudah kalah keras dibanding suara kepentingan?

Negeri ini tidak kekurangan pejabat.

Tidak kekurangan aturan.

Tidak kekurangan slogan.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berlaku adil.

Berani melindungi hutan.

Berani melindungi masyarakat.

Berani melindungi satwa.

Berani melawan keserakahan.

Dan berani menegakkan hukum meskipun berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuasaan dan uang.

Karena suatu hari nanti, ketika jabatan berakhir dan kekuasaan berpindah tangan, yang tersisa bukanlah kursi kekuasaan.

Yang tersisa adalah bumi yang kita tinggalkan.

Apakah kita akan meninggalkan hutan?

Atau hanya meninggalkan arang?

Apakah kita akan meninggalkan udara bersih?

Atau mewariskan kabut asap?

Apakah kita akan meninggalkan keadilan?

Atau mewariskan ketimpangan?

Ini saatnya bercermin.

Sebelum rakyat kehabisan napas.

Sebelum hutan kehabisan pohon.

Sebelum satwa kehabisan habitat.

Dan sebelum negeri ini benar-benar kehabisan harapan.

Api bisa dipadamkan dengan air.

Tetapi keserakahan hanya bisa dipadamkan dengan keberanian, hukum dan keadilan.

Dan kepada siapa pun yang hari ini memegang kekuasaan:

ingatlah, negeri ini bukan warisan pribadi.

Ia adalah titipan untuk generasi yang belum lahir.

Oleh : Misnato (Petualang Jurnalis) Asal Kota Sampit

BACA JUGA  Opini: Hipertensi di Poso: Ketika Penyakit Sunyi Membuat Warga Membayar Terlalu Mahal

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini