SAMPIT – KALTENG || Journalistpolice.com – Pengalaman pahit terkait pelayanan kesehatan di RSUD Murjani Sampit kembali mencuat dan menjadi perbincangan publik setelah diunggah seorang warga melalui media sosial Facebook.
Dalam unggahannya, warga tersebut menilai RSUD Murjani yang menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan dan kebanggaan masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim) sudah saatnya dibenahi secara serius.
Ia menekankan bahwa rumah sakit yang dibiayai dari APBD Kabupaten Kotim seharusnya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, agar tidak terus menjadi sorotan negatif akibat pelayanan yang dinilai buruk.

Pengalaman itu dialaminya beberapa tahun lalu saat masih menjabat sebagai Kepala Desa Tumbang Kaminting, Kecamatan Bukit Santuai. Ia membawa seorang warganya ke RSUD Murjani setelah didiagnosis menderita kanker rahim.
Perjalanan dari desa menuju rumah sakit memakan waktu sekitar lima jam. Namun setibanya di RSUD Murjani, pasien tersebut justru tidak mendapatkan penanganan dari dokter jaga dan diminta pulang karena dinilai tidak dalam kondisi berbahaya.
Penolakan tersebut membuatnya kecewa dan sempat bersitegang dengan seorang dokter perempuan yang bertugas saat itu. Ia mempertanyakan logika penolakan, mengingat pasien telah menempuh perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya besar demi berobat.
“Tidak mungkin orang mengaku sakit dan datang jauh-jauh ke rumah sakit kalau tidak benar-benar sakit,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia bahkan mengaku sempat melontarkan kata-kata keras sebagai bentuk kekecewaan, karena merasa pasien tidak dihargai sama sekali, meskipun hanya sekadar mendapatkan penanganan awal.
Namun dokter tersebut menegaskan bahwa sebagai tenaga medis, ia memiliki hak untuk menerima maupun menolak pasien sesuai pertimbangan medis.
Akhirnya, pasien tersebut pulang tanpa mendapatkan pengobatan apa pun, bahkan tidak menerima satu tablet obat pun.
Sekitar dua bulan kemudian, warga yang dibawanya itu meninggal dunia di kampung halaman. Pengalaman tersebut meninggalkan luka mendalam dan menjadi alasan ia kembali menyuarakan kritik terhadap pelayanan RSUD Murjani Sampit.
Saran dan Harapan
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan pelayanan RSUD Murjani Sampit, khususnya dalam hal sikap profesional tenaga medis dan sistem penerimaan pasien rujukan dari daerah terpencil.
RSUD Murjani harus memastikan tidak ada lagi penolakan pasien tanpa penanganan awal yang manusiawi, terlebih bagi warga yang telah menempuh perjalanan jauh dengan keterbatasan akses dan biaya. Pelayanan dasar seperti pemeriksaan awal, observasi, atau penanganan sementara seharusnya menjadi standar yang tidak bisa ditawar.
Selain itu, pengawasan internal perlu diperkuat agar hak pasien atas pelayanan kesehatan benar-benar terlindungi. Setiap keluhan masyarakat harus ditindaklanjuti secara terbuka dan transparan sebagai bahan perbaikan berkelanjutan.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembinaan etika pelayanan, serta penegakan disiplin bagi tenaga medis menjadi langkah penting agar RSUD Murjani kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Sebagai rumah sakit rujukan yang dibiayai dari APBD, RSUD Murjani dituntut hadir bukan hanya sebagai fasilitas kesehatan, tetapi juga sebagai simbol kepedulian negara terhadap hak hidup dan kesehatan warganya.
Penutup Redaksi
Pengalaman warga yang disampaikan melalui media sosial ini hendaknya tidak dipandang sebagai serangan, melainkan sebagai alarm peringatan bagi semua pihak. Kritik lahir dari harapan, dan harapan muncul karena masyarakat masih percaya RSUD Murjani Sampit dapat dibenahi.
Sudah saatnya evaluasi menyeluruh dilakukan, tidak hanya pada sistem pelayanan, tetapi juga pada empati dan tanggung jawab moral dalam melayani pasien. Rumah sakit daerah yang dibiayai dari uang rakyat wajib menempatkan keselamatan dan kemanusiaan sebagai prioritas utama.
Redaksi berharap pemerintah daerah dan manajemen RSUD Murjani Sampit tidak menutup mata terhadap suara masyarakat, melainkan menjadikannya pijakan untuk berbenah demi pelayanan kesehatan yang lebih adil, manusiawi, dan bermartabat.
Penulis: Misnato (Petualang Jurnalis Wakil Pemimpin Redaksi Journalistpolice.com








