spot_img
BerandaDAERAHKomoditi Rotan Diselamatkan, Martabat Petani Dipertaruhkan

Komoditi Rotan Diselamatkan, Martabat Petani Dipertaruhkan

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

KALTENG || Journalistpolice.com – Komoditi Rotan harus diselamatkan guna memtaruhkan martabat para petani rotan itu sendiri. 

Baru-baru ini penggagalan penyelundupan 9 kontainer rotan di Pelabuhan Dwikora Pontianak patut diapresiasi.

Ketegasan tim gabungan TNI, BAIS, dan Bea Cukai menunjukkan negara masih hadir menjaga kedaulatan komoditas strategis.

BACA JUGA  Polresta Palangka Raya Gagalkan Percobaan Bunuh Diri Seorang Wanita

Namun, penegakan hukum semata tidak cukup. Tanpa kebijakan harga dan perlindungan petani, rotan akan tetap terpuruk di akar, meski diselamatkan di pelabuhan.

Rotan bukan sekadar komoditas. Ia adalah identitas ekonomi masyarakat adat, penyangga hutan, sekaligus simbol keberlanjutan. Ketika rotan mati, hutan ikut terancam.

Hari ini, petani rotan menghadapi dilema. Harga rendah, pasar tak pasti, sementara kelapa sawit menawarkan kepastian ekonomi. Tanpa intervensi negara, pilihan mereka mudah ditebak: meninggalkan rotan.

BACA JUGA  Rugikan Negara Rp3,5 Miliar Koruptor Proyek Gedung Sampit Expo Divonis Ringan

Larangan ekspor rotan mentah sejatinya bertujuan mulia, mendorong hilirisasi. Tetapi, bila tidak diiringi jaminan pasar dan harga, larangan justru menjadi beban bagi petani.

Akibatnya, penyelundupan tumbuh. Bukan semata karena keserakahan, tetapi karena ketimpangan kebijakan antara hulu dan hilir.

Padahal, industri rotan nasional seperti di Cirebon sangat membutuhkan bahan baku. Ketika stok dalam negeri langka, pengrajin tercekik, ekspor produk jadi ikut melemah.

BACA JUGA  Polri Tetapkan Satu Tersangka TPPO dari 699 WNI yang Dipulangkan dari Myanmar

Rotan adalah rantai ekonomi. Jika satu mata rantai putus, seluruh sistem runtuh.

Lebih jauh, rotan menjaga hutan tetap berdiri. Ketika rotan hidup, hutan dijaga. Ketika rotan mati, pembukaan lahan menjadi tak terhindarkan.

Saran dan Solusi

  1. Tetapkan Harga Dasar Rotan Nasional.
    Pemerintah perlu menetapkan harga acuan agar petani memiliki kepastian pendapatan.
  2. Perkuat Hilirisasi Nyata, Bukan Retorika.
    Bangun sentra industri rotan di daerah penghasil, bukan hanya di kota besar.
  3. Subsidi Transportasi dan Logistik.
    Biaya angkut rotan dari pedalaman harus ditanggung negara agar petani tidak rugi.
  4. Buka Skema Ekspor Terbatas dan Terkontrol.
    Jika stok melimpah, ekspor mentah boleh dibuka secara selektif dengan kuota ketat.
  5. Libatkan Masyarakat Adat sebagai Mitra.
    Bukan sekadar objek, tetapi aktor utama pengelolaan rotan.
BACA JUGA  RAB Asing: Skandal Etika Penganggaran DPRD Kotim

Kesimpulan

Penggagalan penyelundupan rotan adalah kemenangan hukum. Tetapi keberlanjutan rotan hanya bisa dijaga oleh keadilan ekonomi.

Tanpa harga yang layak, petani akan pergi. Tanpa petani, rotan akan punah. Tanpa rotan, hutan kehilangan penjaga alaminya.

Imbauan

Kami mengimbau pemerintah pusat dan daerah untuk memperjuangkan harga komoditas rotan secara serius dan berkelanjutan. Jangan biarkan rotan kalah oleh kelapa sawit hanya karena kebijakan yang timpang.

Rotan bukan masa lalu. Rotan adalah masa depan hijau Indonesia, demikian

Penulis Opini: Misnato (Petualang Jurnalis) Wakil Pemimpin Redaksi Journalistpolice.com

BACA JUGA  Kabag Tata Pemerintahan Setda Kotim Halangi Tugas Wartawan

 

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini